Monday, September 14, 2015

Sesuatu yang Menarik dari Jakarta dan Tidak Ada di Kota Lainnya

Well, saya posting ini setelah hampir tiga bulan saya menetap tinggal di sekitar Ibukota Indonesia.

Saya tinggal di daerah Pondok Cabe, Tangerang Selatan. Wilayah yang sangat dekat (lempar kaos kaki juga nyampe) dengan Jakarta tetapi secara geografis sudah masuk daerah Tangerang Selatan. Sebelumnya saya pernah tinggal di daerah ini selama tiga bulan, pada tahun lalu. Kemudian tahun ini saya berencana untuk menetap di sini.

Selama empat tahun saya tinggal di Kota Malang Jawa Timur, kemudian sekarang harus merasakan panas dan (kata orang) kejamnya Ibukota. Ada beberapa hal dari Jakarta yang menarik perhatian saya. Hal ini saya yakin tidak akan bisa ditemui di kota-kota lainnya.




1. Bebas pakai make-up di Busway atau KRL.


Beberapa hari yang lalu, saya harus bertemu dengan orang di daerah Tanah abang, Jakarta Pusat. Karena saya masih awam dengan daerah tersebut, saya memutuskan untuk naik APTB (Angkutan Perbatasan Terintegrasi Bus Transjakarta) Busway. Saya naik dari pool Bianglala. Pukul 6 pagi saya sudah di pool dan segera masuk Busway untuk mencari tempat duduk. Satu persatu penumpang yang notabene adalah karyawan di Ibukota masuk untuk memenuhi bangku di dalam Busway. Mata saya tertuju pada wanita di bangku yang berhadapan dengan saya. Dia asyik mengoleskan lipstick pada bibirnya, kemudian sesekali melihat pada kaca di kotak kosmetiknya. Setelah itu dia mengenakan pensil alis dan eye liner. Kemudian memoles bedak. Lipsticknya merah sekali. Bukan, bukan itu yang membuat saya heran. Saya heran orang-orang di sekitarnya merasa hal ini biasa saja dan well, it's not my business. Itu yang saya tangkap melihat kejadian seperti ini.
Coba bandingkan dengan kalian yang pernah merasakan tinggal di kota besar lainnya seperti Malang dan Surabaya. Rasanya, memakai lipstick di toilet mall saja sudah risih dilihatin sama petugas dan pengunjung toilet lainnya. Ngaku reeeeeek.


2. Your Earphone is Your Life

Untuk mengurangi kebosanan karena menunggu, rata-rata orang akan menggnakan earphone dan mulai mendengarkan music. But, in this town, I always find people using earphone. Di busway, di jalan raya, di foodcourt, di bank, di toilet (ngaco). Well, kembali lagi ini bukan urusan saya ya karena saya tidak ikut membelikan ipod ataupun handphone mereka. Tetapi, misalkan nih, mereka dipanggil atau kemungkinan terburuknya ada orang minta tolong, mereka ini dengar apa tidak ya?
Waktu itu saya pernah bertanya pada rang yang duduk di sebelah saya. Saya selalu mengulang-ulang pertanyaan yang saya lontarkan. Akhirnya saya baru sadar bahwa dia pake earphone. Hell!
Saya bandingkan ketika watu itu saya tinggal di Kota Malang, ketika saya sedang istirahat setelah bersepeda. Saya baru saja memasang earphone, eh dicolek sama mas-mas pesepeda.
"Mbak, mbok ya ngobrol sama temennya sana. Ojok make earphone terus".
Rasanya pengen saya gelitikin pantatnya, kan saya baru aja pasangan earphone -_-.


3. Berangkatlah Dua Jam Sebelum Janjian

Lagi-lagi saya ada harus bertemu dengan orang di Ibukota dan mengharuskan saya menggunakan APTB Busway. Waktu itu janjian pukul 9 pagi di Rawamangun, Jakarta Timur. Pesan keluarga saya di Pondok Cabe apa, tau engga?
"Bangun Jam 4 pagi, kemudian mandi, menunggu adzan Subuh, sarapan, kemudian berangkat. Gak pake tidur lagi"
Selain pengen nangis, aku juga pengen terbang melayang ke Rawamangun.

Selain itu, waktu itu saya ada acara yang mengauskan saya balik ke Malang. Rencana flight dari Bandara Soekano Hatta pukul 1 siang. Saya disuruh siap dari pukul 9 pagi dan berangkat pukul 10 pagi doang yaaaaaaaaaa~
Itupun sampe Bandara juga ngos-ngosan.


4. Es Teh sama Es Teh Manis itu Beda~


Kebiasaan minum es teh setelah makan di pinggiran saya bawa sampai di kota ini. Dan fakta unik di sini adalah ketika saya memesan "mas, es teh satu ya" maka yang datang adalah es teh tawar, yang tidak ada rasanya, yang pahit, hambar, seperti jomblo baru ditinggalkan saat sedang cinta-cintanya. Jadi, di sini kalau mau pesan es teh dengan rasa manis seperti kenangan dengan mantan (halah) ya kalian harus bilang "mas, pesen es teh manisnya satu. jangan terlalu manis yang penting setia" *disirem*
Hal ini berbeda ketika saya pergi ke Kota Jogjakarta, waktu itu teman saya memesan teh anget tawar. Dia pesen "Mas, teh anget tawar siji yoo"

Lyfe.


5. Jakarta itu Komplit.

Di Jakarta semuanya ada. Orang baik, orang jahat, Orang Jawa, Orang Betawi, Orang Padang, semua suku di Indonesia tumplek blek di Kota ini. Tidak ada syarat khusus untuk tinggal di Ibukota ini. Tetapi yang perlu kalian ketahui, fakta mengejutkan adalah setiap tahun, permukaan tanah di Jakarta turun 12 cm *geleng-geleng kepala*. I've no comment if you said Jakarta banjir, Jakarta macet, Jakarta bla bla bla. Ya, monggo dilihat.
Selain banyaknya suku dan jumlah penduduk, di Jakarta banyak mall, banyak tukang makanan, banyak konser, dan banyak copet.


6. Yang Jual Soto Mie Bogor itu Orang Jawa Tengah.

Tidak bermaksud rasis di sini, tetapi fenomena yang menggelitik saya dan mencengangkan adalah ketika saya mampir di kedai soto mie di daerah Pondok Kelapa, Jakarta Timur. Setelah selesai makan dan mau bayar, ternyata dia pake logat Jawa Tengah. Dia cerita kalau dia dari Blora, Jawa Tengah.
Terus dapet resep soto mie Bogor ini dari mana mbak e pak e bapak e -____________-.


7. Pake Masker itu Wajib.



Masker di sini adalah masker untuk penutup hidung dan mulut yaaa, bukan makser untuk muka yang dipakai di salon-salon. Kenapa? Udara Jakarta sudah tidak lagi bersih, jika dibandingkan dalam satu tahun hanya 81 hari udara Jakarta itu bersih. Oleh karena itu tidak heran jika pejalan kaki memakai masker, pesepeda motor memakai masker, penumpang busway memakai masker.


8. Cash Less


You must to have Transjakarta Card untuk bisa naik busway dan KRL. Beberapa foodcourt dan tempat makan lainnya juga mulai banyak menggunakan chasless. Gubernur Jakarta, Ahok ingin jadikan Jakarta Cashless Society. Nah, merasa dipermudah sih bagi orang yang memang mengerti bahwasanya hal ini akan berdampak baik. Tetapi, banyak juga yang mencela hal ini ribet dan lain sebagainya.

Bagaimana? Tertarik untuk tinggal di Jakarta?

No comments:

Post a Comment