Tuesday, April 26, 2016

Pelabuhan Perjalanan Bernama Pernikahan




Alhamdulillah, hari yang dinanti akhirnya datang juga. Saya dinikahi Mas Hamdanis di usia baru menginjak 22 tahun. Pernikahan kami bisa dibilang sangat sederhana. Mahar diberikan tanpa ada permintaan berapa jumlahnya dari keluarga saya. Perpaduan adat Betawi dan Jawa, pernikahan kami dilaksanakan dengan sakral di rumah sesuai pesan almarhum nenek dan kakek.



Menjadi istri di usia 22 tahun adalah hal yang jauh di luar dugaan saya. Jangankan rumah sendiri, pekerjaan-pun saat itu saya masih cari-cari. Tapi, di tengah ketakutan-ketakutan saya, 'nanti kita tinggal di mana setelah menikah?', 'nanti cukup gak ya uangnya buat makan sehari-hari?', 'kita belum punya tabungan, gimana kalau anak sekolah', dukungan penuh diberikan oleh kakak-kakak ipar saya. Satu yang paling saya ingat dan saya pegang sampai sekarang. 
"Kamu tidak perlu takut. Saat kamu menikah, pintu rezeki dibuka oleh Allah selebar-lebarnya. Yang menutup pintu rezeki itu sebenarnya manusia sendiri, saat suami dan istri tidak saling terbuka."


Alhamdulillah, 26 Desember 2015 saya resmi jadi istri dari Muhammad Hamdanis. 

AKAD NIKAH

Akad nikah dilaksanakan tanggal 26 Desember 2015 pukul 09.000 WIB di rumah saya, sesuai pesan dari almarhum nenek dan kakek 'semua cucu perempuan, selama masih punya rumah, ada baiknya dilaksanakan di rumah sendiri'. 
Pemilihan tanggal dan jam akad nikah sesuai hasil kesepakatan dan perhitungan Jawa yang ribetnya ampun deeeeh.

Sorban dan Kembang Kelapa ala Muslim Betawi
Ijab dan qabul

ALHAMDULILLAH SAH!

Tatapan pertama

Ciuman pertama sambil dirangkul Bapak

Cincin nikah


PERNIKAHAN ADAT DAN RESEPSI

Tanpa mengesampingkan agama, pernikahan saya dilaksanakan dengan adat Jawa yang kental berikut semua prosesi mulai dari Siramin di H-1 kemarin.

Di sinilah sebenernya ketegangan di mulai. Ya, menikah itu sebenernya bukan hanya menyatukan dua kepala tapi dua keluarga. Saya pengennya A, Ibu saya pengennya B, dan mertua pengennya C. Tapi alhamdulillah suami selalu kasih support dan berusaha ngasih yang terbaik.
Emangnya semua berjalan mulus? Enggak!
Banyak banget pertentangan, banyak banget konsep yang harus dirubah. Sebenernya pengen lho nikah dengan nuansa yang privat, tapi kata Ibu gak bisa. Sebagai anak perempuan pertama (kakak saya laki-laki yang tentunya pas menikah tidak semeriah ini) Ibu dan Bapak pengen banget mengundang banyak rekan. Oke, berarti nikah dengan konsep privat ditolak.
Lalu, venue yang harusnya di rumah saja tiba-tiba diganti di gedung balai rakyat dekat rumah karena keterbatasan halaman rumah dan apabila dirombak jadi menyusahkan dan memakan biaya yang lebih. Sebenernya sudah mau mengusulkan acara di outdoor tapi ditolak dengan alasan prosesi adat yang panjang dan takutnya tamunya akan kepanansan.
Masih banyak sekali cerita-cerita lucu dan menggemaskan saat-saat menjelang pernikahan, sampai hal yang paling sensitifpun muncul. Yaitu biaya.
Ibu dan Bapak menikahkan saya saat kondisi keluarga sedang terpuruk. Sedangkan saya sudah 'diminta' oleh pihak keluarga Mas Hamdanis.  Ada beberapa hal yang dirasa kurang penting dan dihapus dari list acara pernikahan adat dan resepsi.  Tapi sekali lagi, keluarga Mas Hamdanis luar biasa baiknya, mahar dan segala bantuan diberikan tanpa diminta oleh keluarga saya.
Banyak sekali support yang datang dari teman-teman yang 'merasa' pernah saya bantu saat nikahannya. Terutama Mbak Retta, berkali-kali dia kirim pesan ke saya bahwa tak perlu banyak keluar uang hanya untuk membayar gengsi.

"Sebenar-benarnya pernikahan adalah kehidupan setelah resepsi"

Sebelumnya saya mau berterima kasih sebanyak-banyaknya kepada suami, Mas Hamdanis. Kalau ingat betapa hektiknya persiapan sebelum hari H, dia yang paling sabar dan tenang setiap mengambil keputusan.
Sampai akhirnya, biaya resepsi kami menghabiskan tidak lebih dari 100 juta rupiah.

*Srah-Srahan
Srah-srahan

*Paes Manten


Behind the scene
Wong Betawi gawe klambi Jowo

*Panggih

Ditemukan oleh keluarga saya yang paling tua

Ngidak Ndog (Meninjak telur)
*Sungkeman



Terima kasih kepada vendor-vendor yang sudah kami ajak kerjasama dengan amast sangat baik.

Venue: Balai Rakyat Desa Ngebrak, Kediri
Terima kasih Bapak Kepala Desanya baik banget. Padahal saya bukan warga setempat, tapi sudah diperbolehkan melangsungkan pernikahan di tempatnya dan segala urusannya dipermudah.

Dekorasi: Rilis Decoration (Instagram: @rilis_decorations)
Mas Anton nama yang punya, masnya sangat baiiiiik banget. Makasih banyak mas Anton sudah banyak sekali direpotin.

Paes Ageng: Mami Soriez (Instagram: @soriezhappy)
Pertama kali dikenalin sama Yusuf, teman saya SMA yang bekerja jadi salah satu MUA di sana. Mami Soriez sudah terkenal banget dengan tangan ajaibnya. Terima kasih Ucup dan Mami.

Catering: Thim Catering (Instagram: @riezkaoktaviana)
Catering ini sebenernya sudah lama sekali berdiri, sudah jadi langganan kantor Ibu saya. Sekarang diwariskan sama anaknya yang kebetulan adalah teman saya SMA. Very nice and humble dengan pelayanannya yang amat sangat baik. Terima kasih Riez.

Photohrapher: Hexa Image (Instagram: @aditya_rimba / www.hexaimage.com)
Ini adalah mimpi saya dari dulu, difotoin sama Adit, teman saya waktu SMA kelas 1 yang sekarang sudah jadi fotografer handal dan banyak menang di berbagai event. Inget banget Adit dulu pas SMA belum punya kamera tapi senang sekali foto dan editing. Saya sebagai teman sangat bangga sama Adit, makanya pas mau nikah saya langsung hubungi dia. Tepat waktu dan sangaaaaat baik sampai pengen nangis kalau inget sering banget ngerepotin. Terbang dari Solo langsung ke Kediri demi motret acara saya. Terima kasih banyak ya Dit, semoga urusanmu dilancarkan.

Buat kalian yang domisili di Kediri atau di Jawa Timur atau bahkan di luar Jawa Timur, saya sangat merekomendasikan vendor-vendor di atas.




Dan Akhirnyaaaaaa...


Kami mewujudkan mimpi kami, menikah pakai sneakers! \m/




Alhamdulillah, bisa duduk berdampingan di atas pelaminan bersama laki-laki pilihan saya.
Siapa bilang ini mudah?
Banyak yang harus harus kami korbankan.
Waktu bermain, mimpi-mimpi babu, kepentingan pribadi.
Tapi, lewat pelabuhan ini kami berdua mulai perjalanan.
Salah satunya adalah berkata 'cukup' kepada diri sendiri setelah sekian lama mencari.
Kami merajut kembali mimpi-mimpi.



Terima kasih mas, sudah mengambil alih tanggung jawabku secara baik-baik. Jadi imam yang penuh sabar dan tenang. Jadi teman saat senang dan kesulitan datang. Jadi kakak yang selalu mengayomi adiknya. Terima  kasih sudah mau membagi waktunya di pelabuhan pernikahan.



Selamat 4 bulan pernikahan, Mas Hamdanis.

Mas, sehat-sehat terus yaaa.
Kita menua bersama.
Tuntun aku jadi istri dan calon ibu yang baik.


Dari istrimu,
yang meneteskan air mata berkali-kali saat menulis ini.

Jakarta, 26 April 2016


1 comment:

  1. Nyinyaa, aku merinding baca kalimat "from istrimu, yang meneteskan air mata berkali-kali saat menulis ini". huhuhuhuhuhu... tangisan super duper gak nyangka, dan bahagia yaaa beb #kiss

    ReplyDelete