Friday, August 18, 2017

Persiapan Menjadi Stay-At-Home Mom

Sampai kapanpun kita (perempuan) tidak akan pernah siap untuk menjadi Ibu sebelum benar-benar melaluinya.


Sebelum memutuskan resign dari pekerjaan untuk mengabdi sepenuhnya pada suami dan anak, saya punya banyak sekali pertimbangan. Yang paling utama adalah masalah keuangan, karena setiap bulan kami sudah terbiasa dengan double income (dari suami dan saya sendiri). Masalah lain adalah kesiapan mental, apakah saya bisa menjadi perempuan yang "hanya" diam di rumah setelah mendapat julukan perempuan kancil, saking gak bisa kalau gak keluar rumah?

Dibilang nekat ya emang nekat, karena memutuskan menjadi stay-at-home mom adalah murni keputusan saya sendiri. Suami saya mendukung sepenuhnya apapun yang dilakukan istrinya. Saya ingin mengasuh anak saya sendiri, Giri berhak untuk itu.

Teman saya, Mba Uchy, juga punya pengalaman yang sama dengan saya. Memutuskan resign dari pekerja kantoran dan memilih menjadi ibu rumah tangga dengan mengurus anak secara penuh. Baca ceritanya Mba Uchy:


Idealisme ini yang akhirnya membawa saya pada tulisan saya di sini, bahwa untuk menjadi stay- at-home mom perlu banyak sekali persiapan.

Sudah Stabilkah Kondisi Keuangan?
Yang paling kerasa adalah masalah keuangan. Bukan karena matre, tapi ini realita, menjadi menteri keuangan dalam rumah tangga saya cukup dibikin pusing dengan keputusan saya sendiri. Sebelum bulan terkahir saya di kantor, kami mencoba berhemat-hemat dan menabung sedikit demi sedikit agar gak kaget karena pemasukan bulan depan harus berkurang sekian rupiah.
Stabilisasi keuangan memegang peran yang sangat penting. Anggota keluarga nambah tapi pemasukan berkurang, maka menteri keuangan dan presiden dalam keluarga harus putar otak. Saya tahu bahwa rezeki sudah ada yang mengatur, tapi kita sebagai umat yang beriman tidak lantas berdiam diri saja kan?

Resign Adalah Keputusan Bersama
Maksudnya, walaupun keputusan untuk menjadi stay at home mom adalah murni keputusan saya, tentu saja keputusan ini harus mendapat dukungan dari suami. Jadi, kalau saja di kemudian hari terjadi selisih paham, maka gak serta-merta saling menyalahkan atas keputusan ini kan?
Saya pernah dapat satu cerita dari teman, bahwa suaminya menyuruh dia untuk resign dan menjadi stay at home mom. Kalau kondisinya seperti ini gimana dong? Kalau saya pribadi, setelah menikah memang saya mengabdi penuh pada suami, di mana ketika saya diminta untuk melakukan sesuatu dan beralasan yang rasional, maka saya akan memenuhinya. Tapi, memang harus dibutuhkan keikhlasan dari salah satu pihak, termasuk keihklasan untuk meninggalkan karir dan jabatan.

Pahami Tanggung Jawab dari Peran yang Baru
Pindah status dari working mom menjadi stay-at-home mom adalah peran baru yang punya tanggung jawab tinggi. Jika suatu hari suami pulang dari kantor dan mendapati anaknya kepalanya benjol, pasti yang kena omel pertama adalah Ibunya. Atau kalau saya pribadi, minimal sebelum Ayahnya pulang kantor, saya memastikan kalau anak sudah mandi dan kamar sudah rapi.
Gak cuma dari sisi istri, suami juga akan punya peran baru dan tanggung jawab yang lebih besar. Yaitu sebagai satu-satunya sumber nafkah di keluarga. Di mana sudah nambah satu anggota baru, yaitu manusa hidup yang pastinya butuh asupan gizi dan jaminan pendidikan.

Stay-At-Home Mom Juga Perlu Waras

Tidak ada yang lebih baik diantara working mom dan stay-at-home mom. Keduanya menyandang gelar "Ibu", yaitu gelar dan jabatan paling tinggi dalam hidup. Jadi, please hindari saling memojokkan dan nyinyir, karena kita (perempuan) adalah Ibu. Titik.
Hiburan bagi working mom adalah bersosialisasi dengan teman sekantor. Karena memang benar, pergi ke kantor adalah sebaik-baiknya pelepas stress dari urusan rumah tangga. Lalu, bagaimana dengan stay-at-home mom?
Oh, main sama anak adalah hiburan kok buibuuuuu~
No! Palsu!
Realistis saja, seharian saya menghabiskan waktu bersama Giri tidak lantas membuat saya tidak butuh hiburan. Giri ini masih bayi, yang kalau pengen sesuatu dia cuma bisa nangis. Ditinggal pipis nangis, digigit nyamuk nangis, laper nangis, pup nangis, ini nangis itu nangis, sampai saya pernah ngomong ke Giri "Nak, kalau mau apa-apa itu ngomong dong, jangan nangis aja", oke, saya butuh piknik.
Menjelajah di sosial media saat anak tidur adalah hiburan buat saya yang paling sederhana. Rasanya saya masih bisa catch up sama temen-temen walaupun lewat dunia maya. Oleh karena itu, menjaga positive vibes circle sangatlah penting. Biar waras. Jadi feed facebook, instagram, dan twitter gak dipenuhi oleh nyinyiran-nyinyiran yang tak berarti.
A healthy mind comes from a delicious food. Ya, saya berterima kasih atas semua kemudahan teknologi aplikasi pemesan dan pengantar makanan. Jadi, jangan heran kalau Ibu-Ibu bingung dengan jarum timbangan, karena dengan makan saya bisa tetap menjaga kewarasan pikiran.
Selain dukungan orang sekitar dan makanan enak, seorang stay-at-home mom bisa menjaga kewarasan dengan meninggalkan semua urusan rumah dan pergi jalan-jalan.

Dan seiring berjalannya waktu, saya sadar bahwa semua ada masanya.
Dulu, saya sangat idealis, rumah harus rapi sebelum suami pulang. Dan ketika embak di rumah berhenti kerja, saya kelabakan. Sampai akhirnya saya paham, ada waktunya rumah saya rapi, tapi gak sekarang, waktu saya masih untuk Giri dulu.
Awal-awal melahirkan saya nangis mulu, Giri cuma bisa nangis, sedangkan di luar sana kok bayi pada lucu-lucu sih bisa ketawa bisa diajak bercanda. Ternyata, semua ada waktunya. Ada waktunya Giri bisa saya ajak bercanda, ada waktunya Giri bisa jadi teman saya saat di luar rumah, ada waktunya bukan lagi saya, tapi Giri yang menjaga saya.

Semua hanyalah tentang waktu. Ikhlas dan menerima adalah kuncinya, karena sesungguhnya di dunia ini tidak ada yang selamanya.

27 comments:

  1. Wish you all good luck ya for your new life :)

    ReplyDelete
  2. saya juga pernah punya pengalaman itu mbak,
    ketika gaji lagi bagus2nya eh pembantu hrs resign dan saya tdk bisa mendapat penggantinya dg cepat
    alhasil...saya memutuskan untuk total jadi ibu rumah tangga

    ketika tugas sebagai ibu lbh kuat untuk memanggil di rumah
    saya percaya, rejeki pasti ada dan datang

    semoga sukses sbg ibu rumah tangga ya mbak... tabik

    ReplyDelete
    Replies
    1. waaaaaaa, pasti berat banget ya mba buat memutuskan.
      terima kasih banyak mba supportnya ;)

      Delete
  3. Iseng kepo banget ke IG mba Nyinya, trus nemu blognya dan langsung nyampe ke strory ini wkkwwk *keceplosan*. Sungguh drama yg seru y Mba jadi #SAHM... Semangat mba! Kita tak sendiri :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahahaha, nemu ajah nih curhatan akoooh hihi..
      Mari berpegangan tangan saling menguatkan hehe :*

      Delete
  4. Yups. Okelah kita stay at home, tapi kita tetep kudu punya ruang untuk sosialisasi n berprestasi *taelah
    Dan disitu saya merasa, ada wifi ato paket data memadai di rumah sgt efektif bikin kita tetap waras di rumah. Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang bener yah mba, internet bikin SAHM merasa 'masih hidup' hehe :D

      Delete
  5. Semangaaat, aku juga lagi bersiap jadi Stay At Hom Mommy lagi, percaya aja setiap Ibu akan punya momentnya sendiri.
    Bismillah yaaa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. *Stay At Home Mommy :))))

      Delete
    2. Hihi, thank you mba..
      Semangat juga buat Mba Hani ;)

      Delete
  6. klo anak msh kecil2 rumah rapi itu spt mimpi, haha. Ngalamin sendiri :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. *awur-awurin tumpukan baju yang belum disetrika* hehehe :D

      Delete
  7. Dijalani aja ^^. Aku juga memilih jadi sahm ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masa-masa ini pasti terlewati yah Mba :)

      Delete
  8. Aku buang semua idealis kata orang. Hehehe... Apalagi bocilnya skrg jadi bola bekel dengan batre alkaline. Jadi kalo rumah berantakan, yo wis. Ga sempet masak ya beli/go food. Yg penting suami pulang ada makanan hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. (((bola bekel dengan batre lkaline)))
      hehehe, gak bisa bayangin aku mba hehehe..
      akupun juga gitu mba, untung suami paham ya dengan kondisi kita..

      Delete
  9. Stay at home mom, asyik si tapi butuh kewarasan tingkat dewa. Apalagi memiliki anak balita, ekstra waras banget. Saya sedang alami masa ini. Kalau enggak waras, ancur minaaaahhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget mba, salutlah aku. Baru 3bulan jadi SAHM aja aku udah buanyaaaaak ngeluhnya hehehe..

      Delete
  10. Semangat jadi Stay at Home Mom, mbak :)
    Di rumah juga selama ada akses internet bisa sambilan kerja. Walaupun mesti pinter-pinter ngatur waktunya juga. Huhuhuhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi, makasih ya mba..
      emang bener internet bikin tetep waras, asal pinter sortir feed IG sama FB. Kalau engga ya malah bikin gak waras kalo yg diliat artis-artis dengan pembantu 15bijik :D

      Delete
  11. Kalau saya selama ada wifi, buku, dan makanan enak, insya Allah tetap waras hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. a healthy mind comes from delicious food berarti bener ya mba hehe..

      Delete
  12. Semoga nanti setelah resign (duuu hari hari menjelang resign sebelum lahiran ini sungguh menggalaukan), saya bisa tetap waras sampe si baby lahir dan seterusnya.

    Akibat pintu pendapatan yang tinggal satu nantinya pun, saya udah mulai panic attack nih, sampe hunting hunting kerjaan yang bisa dikerjain di rumah. Agak sedih sih, tapi mau gimana lagi coba?

    ReplyDelete
    Replies
    1. semangat mbaaaaa! percayalah semua ada waktunya..
      kita (perempuan) sangatlah hebat! Hihi..
      Tetep jaga kewarasan yah hehe ;)

      Delete
  13. Kalau rejeki, insyaa Alloh Ada Alloh yang jaga. Kalau niat untuk anak, insyaa Alloh bakal ditolong. Yang penting maaah WARAS, hihihihi..

    Semangat momy 💪💪

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam WARAS momy! hehe..

      Makasih ya ;)

      Delete